Halaman 1: Codelab Introduction

Saya sebenarnya masih menimbang-nimbang mau mengategorikan ini nafkah (hobi yang dibayar) atau cost driver (baca hobi yang perlu dinafkahi)?

Programmer udah bejibun, ngapa pula makmak kayak saya nimbrung kerjaannya anak muda ye, kan?

Hanya saja, ide untuk kembali ngoding tercetus saat mengikuti acara inkubasi start up yang diinisasi Kementerian Kominfo. Sebagai peserta yang mendaftarkan diri sebagai hustler, saya tidak menyangka ternyata makhluk dengan tipe hustler banyaknya mintak ampun dan kebalikannya hipster amad sangad susah ditemukan.

Sebenarnya rata-rata start up juga terdiri dari tim yang tidak ideal, hanya saja dalam acara tersebut cukup ditekankan pentingnya peran hipster. Kalau pun ga ada ya, konsekuensi masing-masing tim aja.

Kita pun bertanya-tanya apa sih definisi hipster. Para mentor memberikan definisi yang sederhana: seorang programmer dengan pengetahuan tentang desain dan UI (user interface) /UX (user experience). Ya, penjelasan buntutnya lumayan panjang sih. Tapi akhirnya bisa dipahami peran hipster cukup strategis dalam menggaet user. Jangan sampai, aplikasi yang nantinya dibuat untuk membantu kerja start up kita canggih tapi tidak dilirik karena user tidak langsung memahami cara penggunaannya. Sesimpel itu. Dan sampai terakhir saya berada di acara tersebut, tim kami belum juga menemukan hipster.

Mengapa harus ada identitas programmer untuk hipster? Tidak cukup titel nyentrik, gaul, designer?

Ini menjadi pertanyaan berulang-ulang di kepala.

Programmer wannabe rasanya sudah jauh saya tinggal di belakang. Bertahun-tahun saya tidak menggunakan identitas yang membuat saya lolos jeratan skripsi. Benar bahwa kemampuan coding saya tidak sejenius teman-teman lain. Tapi saya ingin menembus mental block itu dengan karya yang punya faedah. Karena ada ternyata, program maupun aplikasi luar biasa namun tingkat engagement dengan user rendah. Begitulah dunia hari ini bekerja, tampak manusia dalam dunia nyata terpolarisasi dalam 'kamar pribadi' namun dalam dunia maya mereka menuntut interaksi tinggi.

Kenapa ribet-ribet belajar coding lagi, mbak?

Sebagian alasannya bisa dibaca di sini.

Postingan ini adalah langkah awal saya untuk berbagi secara konsisten dan kontinu. Kalau website ini nanti menjadi sekedar remah-remah tentang gaya hidup sehari-hari, mohon ingatkan ya pemirsa. Kasihanilah saya untuk tidak keterusan jadi recehan.

So, siap menyimak baris-baris syntax?

😊

No comments:

Post a Comment