Halaman 4: Shutterlab Introduction

Semalem nyekroll2 google dengan kata kunci apa yang kamu dapatkan dengan kamera nircermin?

Buat apa pula diterjemahkan dalam bahasa kita ini nircermin, mbak?

Ya biar ga sok kece gitu.

Kalo udah kece dari lahir gemana, mbak?

Aish, lieur, brisik ah.

Ada beberapa artikel, tapi yang bikin penasaran adalah artikel ini.

Dalam artikel tersebut ditampilkan antara lain bagaimana kamera menangkap momen sunset, sport, portrait, dan backlight. Lalu saya pun insaf bahwa kamera saya lumayan powerfull. Dan oleh karena itulah saya sayang-sayang biar ga rusak.

‘Sayang-sayang’ itu biang masalah juga sebenernya.

Fokus yang saya pilih adalah street photography. Bukan foto-foto cantik-cantik make up-make up ala-ala selebgram. Karena dipakai di jalanan itulah kamera mestinya yang tahan banting dan murahan. Kenapa? Karena biar kalo ada apa-apa ke kamera saya ga sakid djiwa memikirkannya.

Cuma I get the point kenapa suami kekeuh dengan kamera yang ada sekarang. Ya, saya merasakan sendiri ketika nge-shoot sesuatu tapi feel yang kita mau gagal ditangkap gadget kita. Pengen ngamuq rhashanyha (bari kukulutusan jeung kamera).

Tadinya memang saya pikir kenapa ga cari yang se-manual mungkin. Cuma seperti kata beberapa begawan fotografi, momen terlalu sayang kalo sambil nunggu setting ini itu. Momen kadangkala kan sepersekian detik. Dan yang bisa diandalkan dalam momen itu adalah refleks untuk capture sesegera mungkin.

Saya agak2 galau ini, mau perbanyak workshop atau ikut komunitas? Mau belajar dulu apa langsung eksyen saja, gitu?

Ada beberapa ide belajar tanpa keluar banyak biaya. Saya baru terfikir sekarang. Secara tutorial ada dimana-mana gitu lho. Buku-buku gratis juga tersedia bebas. Gitu kok belajar masih pyuszink, mbak?

Karena, kalo pas ikut workshop atau komunitas gitu suka dahsyat2 peralatan tempurnya. Mestinya bisa dilawan dengan teknik dan ilmu yang by experience ya? Cuma saya belum nemu saja cara bereksperimen di lingkungan yang terbatas, alat terbatas, dan ilmu yang terbatas.

Hayo, mbak, alat yang sudah ada jangan sampai mubadzir. Wajib-kudu balik modal. Piye? Bukan cumak gaya-gayaan kan tu, alatnya?

Iya, deh. Yuk mare susun kurikulum sendiri.

No comments:

Post a Comment