Disclaimer: tulisan ini digunakan untuk pembelajaran pribadi yang merupakan saripati dari Bab Kedua buku Feminist Thought: A More Comprehensive Introduction karya Rosemarie Tong. Materi yang disusun ini bukan merupakan hasil kajian analitikal maupun materi literasi untuk umum, namun tidak lebih hanya sebagai upaya meningkatkan wawasan pribadi. Simpulan akhir penulis terhadap karya tersebut bisa saja lain dari yang tertulis di sini.
Feminis tahun 1960-an dan 1970-an yang menjadi anggota kelompok hak asasi perempuan percaya bahwa mereka dapat mencapai kesetaraan gender dengan mereformasi “sistem” dan bekerja untuk menghilangkan kebijakan pendidikan, hukum serta sistem ekonomi yang diskriminatif. Kesetaraan hak bagi perempuan adalah tujuan terpenting dan pada umumnya prinsip-prinsip dasar filsafat politik liberal dapat diterima bagi para pembaru ini. Tetapi tidak semua feminis 1960-an dan 1970-an ingin menemukan tempat bagi perempuan dalam "sistem".
Para feminis yang membentuk kelompok-kelompok seperti The Redstockings, The Feminist, dan The New York Radical Feminist menganggap diri mereka sebagai revolusioner daripada reformis. Tidak seperti feminis reformis yang bergabung dengan kelompok-kelompok hak asasi perempuan, para feminis revolusioner ini tidak tertarik pada isu-isu perempuan sebagai hasil dari pekerjaan resmi dalam lembaga pemerintah, komisi/pokja perempuan, maupun kelompok pendidikan atau profesional perempuan. Sebaliknya, keinginan mereka untuk memperbaiki kondisi perempuan muncul dalam konteks partisipasi mereka dalam gerakan sosial radikal, seperti gerakan hak-hak sipil dan anti perang.
Julukan radikal feminis diperkenalkan untuk feminis yang lebih parktis dan taktis dalam kampanye penyadaran kesetaraan gender. Kampanye ini berfokus pada sharing pengalaman pribadi antar perempuan dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka menemukan bahwa beberapa pengalaman tertentu juga dialami oleh banyak perempuan. Menurut Valerie Bryson, peningkatan kesadaran menunjukkan bagaimana trauma seorang perempuan yang telah diperkosa atau yang terpaksa melakukan aborsi ilegal tampaknya terkait dengan pengalaman istri yang suaminya menolak melakukan pekerjaan rumah tangga atau tidak adil dalam perlakuan seksual terhadap istrinya; juga menimpa profesi sekretaris dimana para atasan bersikeras bahwa mereka perlu mengenakan rok pendek, mengharapkan sekretaris untuk "bersikap baik" kepada klien atau menganggap mereka gagal untuk mengurus kantornya secara efektif serta siswa perempuan dimana para guru meremehkan para gadis, menolak mempelajari penulis perempuan atau bahkan memperdagangkan nilai untuk keuntungan seksual secara sepihak.
Berdasarkan kesadaran bahwa nasib perempuan saling terkait, feminis radikal menyatakan bahwa "the personal is political" dan semua perempuan merupakan saudara. Mereka bersikeras bahwa kontrol laki-laki baik seksual maupun reproduksi serta identitas diri, harkat dan martabat perempuan adalah masalah paling mendasar dari semua penindasan manusia.
Klaim bahwa opresi terhadap perempuan hanya karena status "perempuan" sulit dibongkar dan lebih mendasar daripada bentuk-bentuk penindasan manusia lainnya. Menurut Alison Jaggar dan Paula Rothenberg, hal ini dapat diartikan sebagai satu atau lebih lima hal berikut:
Feminis tahun 1960-an dan 1970-an yang menjadi anggota kelompok hak asasi perempuan percaya bahwa mereka dapat mencapai kesetaraan gender dengan mereformasi “sistem” dan bekerja untuk menghilangkan kebijakan pendidikan, hukum serta sistem ekonomi yang diskriminatif. Kesetaraan hak bagi perempuan adalah tujuan terpenting dan pada umumnya prinsip-prinsip dasar filsafat politik liberal dapat diterima bagi para pembaru ini. Tetapi tidak semua feminis 1960-an dan 1970-an ingin menemukan tempat bagi perempuan dalam "sistem".
Para feminis yang membentuk kelompok-kelompok seperti The Redstockings, The Feminist, dan The New York Radical Feminist menganggap diri mereka sebagai revolusioner daripada reformis. Tidak seperti feminis reformis yang bergabung dengan kelompok-kelompok hak asasi perempuan, para feminis revolusioner ini tidak tertarik pada isu-isu perempuan sebagai hasil dari pekerjaan resmi dalam lembaga pemerintah, komisi/pokja perempuan, maupun kelompok pendidikan atau profesional perempuan. Sebaliknya, keinginan mereka untuk memperbaiki kondisi perempuan muncul dalam konteks partisipasi mereka dalam gerakan sosial radikal, seperti gerakan hak-hak sipil dan anti perang.
Julukan radikal feminis diperkenalkan untuk feminis yang lebih parktis dan taktis dalam kampanye penyadaran kesetaraan gender. Kampanye ini berfokus pada sharing pengalaman pribadi antar perempuan dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka menemukan bahwa beberapa pengalaman tertentu juga dialami oleh banyak perempuan. Menurut Valerie Bryson, peningkatan kesadaran menunjukkan bagaimana trauma seorang perempuan yang telah diperkosa atau yang terpaksa melakukan aborsi ilegal tampaknya terkait dengan pengalaman istri yang suaminya menolak melakukan pekerjaan rumah tangga atau tidak adil dalam perlakuan seksual terhadap istrinya; juga menimpa profesi sekretaris dimana para atasan bersikeras bahwa mereka perlu mengenakan rok pendek, mengharapkan sekretaris untuk "bersikap baik" kepada klien atau menganggap mereka gagal untuk mengurus kantornya secara efektif serta siswa perempuan dimana para guru meremehkan para gadis, menolak mempelajari penulis perempuan atau bahkan memperdagangkan nilai untuk keuntungan seksual secara sepihak.
Klaim bahwa opresi terhadap perempuan hanya karena status "perempuan" sulit dibongkar dan lebih mendasar daripada bentuk-bentuk penindasan manusia lainnya. Menurut Alison Jaggar dan Paula Rothenberg, hal ini dapat diartikan sebagai satu atau lebih lima hal berikut:
- Bahwa perempuan, secara historis, adalah kelompok paling tertindas.
- Bahwa opresi terhadap perempuan adalah yang paling luas dan nyata pada setiap masyarakat yang dikenal.
- Bahwa opresi terhadap perempuan adalah bentuk penindasan tersulit untuk diberantas dan tidak dapat dihapus oleh perubahan sosial lainnya seperti penghapusan masyarakat kelas.
- Bahwa opresi terhadap perempuan menyebabkan penderitaan terbesar bagi para korban, secara kualitatif maupun kuantitatif, meskipun penderitaan mungkin sering tidak diakui karena prasangka seksis baik dari penindas maupun korban.
- Bahwa opresi terhadap perempuan memberikan model konseptual untuk memahami semua bentuk penindasan lainnya.
Tetapi hanya karena radikal feminis setuju secara prinsip bahwa seksisme adalah bentuk penindasan manusia yang pertama, paling luas, atau terdalam tidak berarti mereka juga sepakat tentang penyebaran kampanye penyadaran dan pemikiran sebagai cara terbaik untuk menghilangkannya. Pada perkembangannya radikal feminis terpecah menjadi dua— radikal-libertarian dan radikal-kultural — dan sesuai pada pengelompokan tersebut para feminis ini menyuarakan pandangan yang sangat berbeda bagaimana cara melawan seksisme.
Radikal-libertarian feminis mengklaim bahwa gender yang eksklusif terhadap identitas feminin kemungkinan akan membatasi perkembangan perempuan menjadi manusia yang utuh. Oleh karenanya mereka mendorong perempuan untuk menjadi androgini yaitu sikap dan sifat yang mewujudkan karakteristik maskulin dan feminin atau (lebih kontroversial lagi) setiap karakteristik maskulin dan feminin dalam segala aspek etika baik maupun buruk sesuai dengan keinginan perempuan. Salah satu radikal-libertarian feminis angkatan pertama dalam kampanye androgini, Joreen Freeman, menulis:
Apa yang mengganggu perihal profesi pelacur adalah bahwa dia androgini. Pelacur menggabungkan dalam dirinya kualitas yang didefinisikan sebagai 'maskulin' serta 'feminin’. Pelacur adalah perempuan yang blak-blakan, langsung, sombong, kadang egois. Pelacur tidak menggunakan cara yang bertele-tele, halus, dan misterius yang biasanya diasosiasikan sebagai sifat feminin. Pelacur meremehkan konsep perwalian karena wajar bagi perempuan jika ingin menjalani kehidupannya sendiri. Dengan kata lain pelacur tidak ingin membatasi dirinya menjadi seorang gadis manis dengan sedikit peluang untuk berkuasa. Sebaliknya pelacur ingin merangkul karakteristik-karakteristik maskulin sebagai bagian dari identitas gendernya sehingga mengizinkan dirinya menjalani hidup dengan caranya sendiri.
Apa yang mengganggu perihal profesi pelacur adalah bahwa dia androgini. Pelacur menggabungkan dalam dirinya kualitas yang didefinisikan sebagai 'maskulin' serta 'feminin’. Pelacur adalah perempuan yang blak-blakan, langsung, sombong, kadang egois. Pelacur tidak menggunakan cara yang bertele-tele, halus, dan misterius yang biasanya diasosiasikan sebagai sifat feminin. Pelacur meremehkan konsep perwalian karena wajar bagi perempuan jika ingin menjalani kehidupannya sendiri. Dengan kata lain pelacur tidak ingin membatasi dirinya menjadi seorang gadis manis dengan sedikit peluang untuk berkuasa. Sebaliknya pelacur ingin merangkul karakteristik-karakteristik maskulin sebagai bagian dari identitas gendernya sehingga mengizinkan dirinya menjalani hidup dengan caranya sendiri.
Di sisi lain Alice Echols menolak kampanye Freeman sebagai tafsir yang salah terhadap pelacur. Echols mengatakan bahwa pelacur Freeman terlalu maskulin untuk figur seorang perempuan. Namun, Echols memuji Freeman karena mengekspresikan keinginan radikal-libertarian feminis untuk membebaskan perempuan dari batasan biologis. Hanya karena seseorang secara biologis adalah perempuan tidak berarti dia ditakdirkan untuk hanya memperlihatkan karakteristik feminin. Perempuan juga bisa menjadi maskulin. Mereka dapat memilih peran dan identitas gender mereka, mencampur dan mencocokkannya sesuka hati.
Kemudian selang beberapa waktu, segelintir radikal feminis mulai memiliki pemikiran kedua tentang perjuangan perempuan menjadi androgini. Mereka mengamati bahwa pelacur bukanlah manusia yang utuh melainkan hanya seorang perempuan yang mengadaptasi karakter maskulinitas terburuk dari yang pernah ada. Kelompok radikal kultural feminis menggantikan tujuan androgini sebagai panggilan resmi bagi perempuan untuk memenangkan sikap karakter feminin.
Berbeda dengan radikal-libertarian feminis, mereka berpendapat bahwa jika perempuan harus menunjukkan karakter maskulin dan karakter feminin maka lebih baik bagi perempuan untuk menjadi perempuan/ feminin. Menurut mereka perempuan sebaiknya tidak mendewakan karakter yang melekat pada laki-laki. Sebaliknya perempuan harus berusaha lebih memprioritaskan sifat aslinya, menekankan nilai-nilai dan kebajikan yang terkait secara budaya dengan perempuan (saling ketergantungan, komunitas, koneksi, berbagi, emosi, tubuh, kepercayaan, tidak adanya hierarki, sifat, imanensi, proses, kegembiraan, kedamaian dan hidup) dan menyisihkan nilai-nilai dan kebajikan yang secara budaya dikaitkan dengan laki-laki (kemerdekaan, otonomi, kecerdasan, kehendak, kewaspadaan, hierarki, dominasi, budaya, transendensi, produk, asketisme, perang dan kematian). Perempuan harus menghargai karakter feminin terlepas dari variasi budaya yang ada. Jika semua perempuan berbagi saling berbagi sifat feminin sehingga jika semakin sedikit pengaruh laki-laki terhadap sifat ini semakin baik.
Berbeda dengan radikal-libertarian feminis, mereka berpendapat bahwa jika perempuan harus menunjukkan karakter maskulin dan karakter feminin maka lebih baik bagi perempuan untuk menjadi perempuan/ feminin. Menurut mereka perempuan sebaiknya tidak mendewakan karakter yang melekat pada laki-laki. Sebaliknya perempuan harus berusaha lebih memprioritaskan sifat aslinya, menekankan nilai-nilai dan kebajikan yang terkait secara budaya dengan perempuan (saling ketergantungan, komunitas, koneksi, berbagi, emosi, tubuh, kepercayaan, tidak adanya hierarki, sifat, imanensi, proses, kegembiraan, kedamaian dan hidup) dan menyisihkan nilai-nilai dan kebajikan yang secara budaya dikaitkan dengan laki-laki (kemerdekaan, otonomi, kecerdasan, kehendak, kewaspadaan, hierarki, dominasi, budaya, transendensi, produk, asketisme, perang dan kematian). Perempuan harus menghargai karakter feminin terlepas dari variasi budaya yang ada. Jika semua perempuan berbagi saling berbagi sifat feminin sehingga jika semakin sedikit pengaruh laki-laki terhadap sifat ini semakin baik.
Yang pasti perkembangan berikutnya menjadikan perbedaan libertarian-kultural menjadi sasaran kritik. Tapi perbedaan khusus ini membantu menjelaskan mengapa beberapa radikal feminis merangkul konsep androgini sementara yang lain menghindarinya, juga mengapa beberapa feminis radikal memandang seks dan reproduksi sebagai penindasan, bahkan berbahaya bagi perempuan dan mengapa yang lain memandang aspek-aspek ini sebagai anugrah yang membebaskan, bahkan memberdayakan untuk perempuan. Pada umumnya dapat dilihat bahwa radikal feminis tidak takut untuk mengambil pengecualian dari pandangan masing-masing.
No comments:
Post a Comment