Judul diinspirasi dari tagline Serikat Saudagar Nusantara.
Banyak orang, ketika bicara tentang aset tetap terutama tanah dan bangunan, maka secara umum rencana jangka panjang dari kepemilikan aset tersebut adalah untuk diserahkan kepada pemilik baru alias dijual. Apalagi bila aset tersebut menempati lahan strategis.
Bisa dipahami sih, untuk mengelola secara produktif tentu memerlukan effort yang lebih. Terlebih jika asset itu tidak berada di dekat lingkungan tempat tinggal pemilik.
Paling logis, jika kita memiliki proyeksi dana khusus, investasi aset tetap berupa tanah dan bangunan tersebut difokuskan pada daerah tempat karib-kerabat tinggal. Ya, tetap ada risiko tanah digarap secara brutal atas nama persaudaraan sih. Tapi ada beberapa hal yang kita dapat dengan pertimbangan tersebut: yang pertama tanah dan bangunan atas nama pribadi, yang kedua ikut serta memberdayakan keluarga sendiri, yang ketiga memastikan dana hasil pengelolaan berputar secara lokal.
Ngomongin aset kayaknya punya banyak duit, nih? Apeee....diomongin karena masih rencana ya, gak? Kalo udah ada mah diem-diem aja kaga usa bilang2...hahahaha...
Dipikir-pikir, jika kita menitipkan pengelolaan maka kita juga perlu menyisihkan bagian untuk pengelola, terlepas dari bagi hasil dari pengelolaan tersebut. Lieur ga sih? Misal, kita punya lahan 1.000 m2 buat kebun pete. Kurang lebih 100 m2 kita sisihkan untuk kerabat yang merawat kebun diluar keuntungan dan uang lelah yang kita anggarkan dari hasil penjualan pete.
Agak rempong sih, akad pinjam-meminjam antar kerabat. Kalo konflik bisa sampe bunuh-bunuhan, ye kan? Jangankan kerabat deh (yang karakternya heterogen dan ga bisa kita arahin), misal sesama anak masjid, yang katenye sama-sama alim, paham agama, ngarti dalil, tiba pas urusan uang gak amanah bisa jadi playing victim, belagak korban.
Pun begitu-hasil obrolan dengan orang2 nih-ada level ketidakamanahan manusia. Misal, pinjem 100K bisa balik juga 100K, 500K masih bisa balikin, 1.000K ga ada masalah, tiba pas 10.000K kelabakan kabur-kaburan. Kalo begini, inget petuah Koh Jaya Setiabudi:
Eike lupa siy, intina mending dinyatakan pailit bahkan oleh pengadilan sekalipun daripada rusak hubungan dengan orang lain.
Jadikan diri sendiri jaminan. Jangan pernah menghindar dari tanggungjawab. Mending terima makian orang. Bertaubat meski dengan banyak pertanyaan entah bagian mana aktivitas kita yang bikin Allah murka. Istighfar. Istighfar. Istighfar. Meski mau mati di tengah himpitan masalah.
Saya nulis begini biar ingat ya, sodara-sodara. Bukan buat ceramah. Saya mah apa atuh, ustadz bukan, alim enggak, ibadah pas-pasan, ilmu seadanya. Debu, saya mah.
Jadi inget video yang diposting sama Mas Saptuari Sugiharto berikut:
Back to masalah aset diatas. Indonesia for sale, katanya begitu. Tapi kekhawatiran itu ada benarnya. Ini saya alami sendiri.
Sesadar-sadarnya saya akan menjadi kontraktor dalam jangka waktu lama. Iya, kontraktor, tukang ngontrak. Maka dari ini ketika membeli barang-barang kurang lebih ada kriteria berikut: ringan, portable, fleksible, ada material tertentu yang saya butuhkan, dan ketika digunakan dengan frekuensi tertentu dia masih cukup aman digunakan. Sialnya, kriteria macam begini ketika kita berselancar di toko online gak ada di produk2 Indonesia. Terpaksa, harus impor. Ceileh, retail? Impor? Coba deh sana cek di aplikasi "baby shark". Ga bo-ong. Suwer.
Ternyata fenomena seperti ini, ada di kehidupan yang lebih luas. Dan terakhir saya cek di negeri Jiran ternyata mereka teriak-teriak tentang masalah yang sama (itulah sebabnya Parti Perikatan sangat populer di sana). Lho, kalau yang di sini masih dikritisi karena pemikiran macam begini halu, kok di sebelah malah: jebret. Langsung dihantam.
Lepas dari urusan politik yang mungkin baru kelar kalau besok kiamat, saya pusing juga dengar tanah sana-sini dekat daerah asal kita diakuisisi pabrik-kontraktor apalah bukan oleh orang yang kita kenal. Dibangun sebuah fasilitas, yang kita sendiri, si empu sebelumnya belum tentu punya kesanggupan buat akuisisi balik.
Arrrggggghhh, aya naon ieu teh?
Maka dari itu (juga dalam rangka mengatur keuangan untuk bekal memenuhi kebutuhan keluarga) menghidupkan lahan menjadi aset produktif menurut saya cukup mendesak. Kalau hanya urusan tanam-menanam gampang lah ya, yang sulit mengatur proses bisnisnya lagi: antar kerabat sendiri.
Ga bisa lagi, motivasi punya aset tanah atau bangunan urusannya cuma untuk dijual. Kalau ada keperluan, harus bisa memberdayakan diri sendiri. Potensi itu ada dalam diri kita. Inget kan yang Abdurrahman bin Auf hanya minta ditunjukkan pasar ketika berhijrah meninggalkan semua harta kekayaan di Makkah? Ga ada aset, ga minta modal. Bahkan ketika ditawari bagian kebun kurma beliau menolak. Semandiri, seproduktif, dan seadaptif beliau itulah yang coba saya cari-cari ilmunya.
Utopis? Ih, itumah situ weh yg utopis. Masih segar diingatan ketika blue bird terlibas gojek. Fenomena jaman kiwari telah mengubah total peta persaingan bisnis jadi asimetris dan relatif unpredictable. Ingat ketika gerai2 Rabbani dan Matahari ditutup demi mengurangi biaya operasional. Ingat dengan blackberry yang terancam punah karena lambat adaptasi dengan android. Ingat majalah-majalah remaja kita dulu yang sudah gulung tikar tak mampu bersaing dengan keterbukaan informasi digital akhir-akhir ini. Daftarnya terlalu panjang dan menyedihkan jika dijelaskan.
Apa sosok Abdurrahman bin Auf adalah sosok yang mustahil? Ah, saya sudah menemukan beberapa inceran buat diinterogasi bagaimana cara mereka survive selama ini. Nyaa atuh ga Abdurrahman bin Auf teuing, yaaa masih level2 Samanhudi atau Tjokroaminoto lah.
Di sisi lain saya juga melihat fenomena senior-senior yang terkena gelombang post-power-syndrome selepas pensiun. Saya bertanya dalam hati: seperti itu kah saya nanti? Sepertinya bukan kehidupan macam itu yang saya ingini. Ingin saya sih bisa terus beradaptasi.
Betul, kematian adalah sebaik-baik nasihat. Akan jadi apa akhir hidup kita adalah awal tentang bagaimana kita akan menjalani hidup ke depan. Mudah-mudahan Allah mudahkan.
Rabbana dzalamna anfusana wa inlam taghfrilana wa tarhamna lanakunanna mina khasyi'in.
Ya Allah Ya Tuhan kami, kami sungguh telah menganiaya diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami maka niscaya kami termasuk golongan orang yang merugi.
No comments:
Post a Comment