Note: Tulisan dalam kutipan diambil dari buku Ad Durrah as-Salafiyyah Syarah al-Arba'in an Nawawiyah. Selebihnya adalah catatan pribadi untuk menyederhanakan penjelasan mengenai syarah tersebut dalam kehidupan keseharian.
Catatan sebelumnya bisa disimak di sini.
Sebagaimana riya' itu terdapat dalam amalan, ia juga terdapat dalam meninggalkan amalan.
al-Fudhail bin Iyadh mengatakan, "Meninggalkan amal karena manusia adalah riya' dan beramal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas adalah bila Allah menyelamatkan Anda dari keduanya". Artinya, siapa yang berniat beribadah tapi meninggalkannya karena khawatir dilihat manusia, maka ia berbuat riya', karena ia meninggalkan amalan karena manusia. Adapun seandainya ia meninggalkan shalat untuk dikerjakannya dalam sepi, maka ini dianjurkan, kecuali bila shalat tersebut shalat fardhu, zakat wajib atau ia seorang alim yang diikuti, maka beribadah secara terang-terangan dalam hal itu adalah lebih utama.
Ternyata yang disebut riya' bukan memamerkan amal di depan manusia. Tetapi ketika menyembunyikan amal karena manusia.
Contohnya jika kita merasa khawatir dijadikan bahan gunjingan ketika shalat tepat waktu saat bersama dengan teman-teman sehingga kita melakukannya sembunyi-sembunyi. Padahal Allah memberikan keutamaan bagi hambaNya yang bersegera menghadap jika waktu shalat tiba. Ibadah wajib yang kita sembunyikan karena khawatir pada ucapan manusia, itulah yang disebut riya'.
Sedangkan syirik ialah ketika memamerkan amal untuk manusia. Segala amal kita hanya Allah lah yang berhak menilai. Apa akan memperberat timbangan kebaikan di yaumil hisab atau sebaliknya. Sehingga ketika kita menduakan tujuan selain Allah maka terkena status syirik dalam hal niat.
Saat kita sembunyi-sembunyi dalam beramal, tapi kemudian kita ungkit-ungkit amal kebaikan yang kita kerjakan maka disebut sum'ah.Sebagaimana riya' membatalkan amal, demikian pula mempopulerkannya (tasmi' atau sum'ah). Yaitu beramal dalam sepi kemudian menceritakan kepada orang lain tentang apa yang telah dikerjakannya. Nabi bersabda:
"Barangsiapa yang memperdengarkan (amalnya), maka Allah akan memperdengarkannya (di Hari Kiamat), dan barangsiapa yang memamerkan (amalnya) maka Allah akan memamerkannya (di Hari Kiamat)."
Menurut para ulama, jika seorang alim yang diteladani, dan ia menyebutkan hal itu untuk memberi semangat kepada orang-orang yang mendengarnya supaya mengamalkannya, maka tidak mengapa.
Contohnya kita mengerjakan Shalat Tahajud, kemudian menceritakan pengalaman shalat kepada orang lain bukan dalam rangka mengajak, namun membanggakan amal sendiri itulah yang disebut sum'ah.
Sebaliknya jika kita menceritakan amalan sembunyi kita dengan tujuan agar orang lain merasa yakin untuk menjalankan amal shalih yang sama maka tidak mengapa.
No comments:
Post a Comment