Note: Tulisan dalam kutipan diambil dari buku Ad Durrah
as-Salafiyyah Syarah al-Arba'in an Nawawiyah. Selebihnya adalah catatan
pribadi untuk menyederhanakan penjelasan mengenai syarah tersebut dalam
kehidupan keseharian.
Keempat hal di atas adalahAl-Mirzabani mengatakan, "Orang yang shalat butuh empat hal sehingga shalatnya dinaikkan (diterima):
Pertama, khusyu' hatinya.
Kedua, sadar akalnya.
Ketiga, tunduk tubuhnya.
Keempat, khusyu' anggota tubuhnya.
Siapa yang shalat dengan tanpa kekhusyuan hati, maka ia orang yang shalat tapi lalai. Siapa yang shalat dengan tanpa ketundukan tubuh, maka ia orang yang shalat tapi hampa. Siapa yang shalat dengan tanpa kekhusyuan anggota tubuh, maka ia orang yang shalat tapi salah. Dan siapa yang shalat dengan rukun-rukun ini, maka ia orang yang shalat secara sempurna.
Sabda Nabi, "Sesungguhnya amalah itu tergantung niatnya". Yang dimaksudkan dengannya ialah amalan-amalan ketaatan, bukan amalan-amalan mubah.
I
Al Harist Al-Muhasibi mengatakan, ikhlas itu tidak masuk dalam perkara mubah, karena ia tidak meliputi ibadah dan tidak pula membawa kepada ibadah. Seperti meninggikan bangunan bukan untuk suatu tujuan tertentu tetapi sekedar meninggikan. Adapun jika untuk suatu tujuan, seperti masjid, jembatan dan perbatasan, maka itu dianjurkan. Ia menambahkan, tidak ada keihklasan dalam suatu yang diharamkan dan yang dimakruhkan, seperti orang yang melihat sesuatu yang dilarang untuk dilihatnya dengan dalih bertafakur terhadap ciptaan Allah, seperti melihat seorang gadis. Ini tidak ada keikhlasannya bahkan tiada bentuk ibadahnya sama sekali. Ia melanjutkan, kejujuran adalah penilaian terhadap seseorang secara proporsional obyektif dalam sepi maupun ramai, zhahir maupun batin. Kejujuran terwujud dengan terealisirnya semua perbuatan, bahkan keikhlasan itu sendiri membutuhkan sesuatu pun. Karena hakikat ikhlas ialah meniatkan karena Allah dengan ketaatan. Adakalanya seseorang meniatkan karena Allah dengan shalatnya, tetapi hatinya tidak khusyu' kepadaNya.
No comments:
Post a Comment