Halaman 27: Merenungi Pencapaian di Kepala Tiga



Usia 30, bagaimana rasanya?

Ini uda lewat dua tahun lalu siy. Tapi habis membaca cerita tentang beberapa wanita yang berasa galau haqiqi di usia kepala 3.

Jadi tertarik bertanya: gimana dengan kamu?

Anu, dua tahun lalu ga berasa masuk 30. Ya, berasa tua di angka aja sih. Eh, ga ding, sejak tahun lalu saya berasa tua juga secara teknologi. Sejak ikut diskusi tentang "Working with Millenials" dan gahul dengan berbagai macam bakul di Serikat Saudagar Nusantara (SSN), saya tjukub kelabaqan menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman.

Sebelumnya memang saya merasa berada di zona stagnan. Stagnan ya, bukan nyaman. Usia sudah kepala 3, sudah berbuat apa? Berbuat apa lho ya, bukan dapat apa. Sepertinya saya ini ga spesialis2 amat di bidang tertentu. Ga berkontribusi2 amat di kerja2 tertentu.

Padahal ya tahu dan pake socmed kayak fesbuk, aigi, twitter, wa, tapi pemanfaatannya ya sekedar urusan personal. Ya, dikit-dikit numpang eksis. Namun, di jagad pergaulan baru yang saya ikuti, mindset bahwa di dunia ini hanya ada 2 jenis golongan: kumpeni dan market pun terkuatkan. Lalu mulai nekad jualan apalah2 dari yang receh-receh sampe nyoba jualan lisensi?

Laku, mbak?

Yang kebutuhan primer sih, laku-laku aja. Yang lisensi ini deh, saya belum nyoba sampe titik maksimalnya jadi belum pede jualan lisensi.

Kayaknya banyak bener yang dijualin, ga fokeus ah!

Hahaha.

Sejak punya anak sebenernya dunia saya benar-benar teralihkan. Sibuk makmum sama mamak-mamak seleb tentang bagaimana jadi ortu yang ketje. Saya serius sih, mendidik si gadis menjadi pribadi yang berkarakter. Adapun kenapa saya makmum adalah biar mengikuti perkembangan pendidikan anak-anak jaman now. Jadi si gadis bisa cukup adaptif dengan teman seusianya nanti.

Untuk mendidik gadis yang berkarakter maka mamak pun kudu percaya diri dengan karakternya sendiri. Berhenti membanding-bandingkan diri sendiri dengan mamak-mamak lain. Lalu untuk mendapatkan achievment lebih, saya mulai posting bagaimana menemani keseharian si gadis. Pada beberapa percobaan saya stuck di satu titik yang membuat semua aktivitas saya terkuras habis ke sana baik waktu, pikiran, biaya, tenaga padahal output nya serba random dan ga terukur. Ini kerja yang warbyasak berat dan sepertinya saya tidak menggali kompetensi jadi cepat merasa buntu.

Saya mengambil jeda sejenak untuk mengambil nafas dan mengatur langkah.

Hingga akhirnya diskusi di atas saya ikuti. Banyak pencerahan dan tamparan-tamparan bahwa selama ini: loe kemana aje, mak? Maka untuk mengejar ketertinggalan, saya gila-gilaan blusukan ke berbagai macam komunitas yang diinisasi millenials. Terjerumus ke KSN hingga bertemu aktivis2 SSN, lalu didorong juga oleh kebutuhan saya pun ketagihan belajar jualan. Garis bawah: belajar ke millenials.

Kesimpulannya: secara umum millenials terlalu gila panggung.

Sorry, tapi ini jujur dan ini cukup bikin getek karena ya, saya melihat 'panggung' sebagai aktualisasi untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Saya menghargai kepedulian millenials, menghargai pendapatnya, menghargai empatinya. Apa mungkin saya ketemunya millenial yang koleris-sanguin mungkin ya. Padahal mungkin banyak juga millenial yang fun, selow, tapi tetep punya determinasi tinggi tanpa harus pegang mic. Ah, saya harus ketemu yang kek gini.

Eksekutor strategis, saya harus ketemu dengan tipe orang yang begini. Jadi dia konsep punya, ada unsur spontanitasnya juga, bisa memprediksi risiko, tahu jalan keluar dr masalah pelik dan solutif. Jyah, ada gitu?

Jika Allah mengizinkan, bulan Dzulhijjah nanti ikut event yang saya maksudkan untuk mempertajam eksekusi dari ide yang saya punya. Ide di kepala saya terlalu banyak. Perlu ketemu dengan orang yang cukup realistis dan taktis buat memotong ide liar di kepala ini. Iya, orang baru, biar jaringan bertumbuh juga kan?

So far saya cukup enjoy dengan kejar-kejaran ini meski ngos-ngosan.

Oia, finally ada proposal juga yang di ACC sama ayah si gadis setelah sekian lama tawaran saya hanya sampai digerundeli saja. Begini-begini saya mah perlu ACC suami buat keputusan-keputusan ekstrim. Dan mungkin proposal itu yang akan saya ajukan di event Dzulhijjah nanti. Karena jujur, itu belum ketemu proses bisnis yang cukup profitable. Sekilas lebih ke hobby aja. Bismillah.

Alhamdulillah 'ala kulli hal.

No comments:

Post a Comment