Gambar ambil di sini.
(Tapi rada jenuh jadi refreshing dulu ke blog)
Menyambung postingan terakhir saya, dengan kekepoan yang mendalam, tak jauh dari postingan itu saya ikut program pemerintah untuk pembinaan start up.
Banyak yang mendefinisikan start up dengan go-jek, tokped, bukalapak atau traveloka. Ya memang kesitu sih arah tujuannya. Saya sebenarnya mencari2 apa bedanya start up dengan bisnis rintisan?
Pertanyaan saya terjawab dari materi Mas Fadli Wilihandarwo, founder pasienia (track record nya bisa baca ini). Saya ngefans pisan lah sama materinya. Mungkin penjelasan Mas Fadli juga yang buat saya lumayan 'mudeng' ditengah2 bahasa2 teknis anak2 hacker atau bahasa2 optimis rekan2 hustler atau bahasa2 kritis anak2 hipster.
Yang saya pahami dari pembahasan tersebut, start up 'idealnya' dimulai dari 'problem'.
Yak, serunya, merumuskan 'problem' dari start up yang akan dibangun adalah sebuah problem juga. Haha.
Why 'problem'? Secara umum, teman2 start up memulai kerjanya dari 'solusi'. Kalau hanya lihat bagaimana kesuksesan start up di awal-awal saya sebutkan, ya ga salah sih kalau pada menyangka start up itu adalah penyedia solusi karena memang hasil akhirnya ya mesti solusi. Yang jadi masalah, apakah solusi yang kita tawarkan akan jadi solusi juga buat orang lain?
Berat, euy.
Masuk akal, sih.
Terlalu banyak contoh, kata Mas Fadli, start up berguguran karena setelah launching ternyata produknya tidak berkembang sesuai harapan di pasar. Sampai sini saya inget newsletter dari Mas Fikry Fathullah (founder kirim.email) bahwa nama baik saja tidak cukup menyelamatkan bisnis kita. Iya, bahwa barangkali ketika pertama kita mengeluarkan produk, ada segenap kerabat dan handai taulan beserta sahabat yang bersedia mencicipi produk kita. Tapi bagaimana memastikan antara produk kita benar2 diterima dengan sekedar tenggang rasa-gak enakan untuk menolak tawaran orang yang dikenal?
Sama halnya dengan bisnis2 lain, start up juga harus going concern. Perbedaan start up dengan bisnis konvensional adalah kemampuan adaptasinya untuk tetap bekerja di tengah situasi bisnis yang sangat volatile. Sudahi kebiasaan kita yang kagetan mendengar perusahaan-perusahaan raksasa terpaksa gulung tikar. Ini sudah jadi kenyataan yang harus dihadapi tiap hari. Menit ke menit. Detik ke detik.
Rada ga enak didenger tapi saya demen penjelasan yang beginian.
Dan kabar buruknya, kenyataan yang saya hadapi, persepsi mengenai product-market-fit ini berbeda antara yang sudah mengecap dunia kerja dengan yang masih idealis jadi mahasiswa. Yang kerja mau cepet jadi duit, yang mahasiswa mau cepet jadi populer. Ok, i'm done. Mundur pelan-pelan.
Yaelah, gitu aja mundur, mbak?
Niatnya memang mau belajar saja sih. Hihi.
Saya masih terus belajar ttg survei pasar. Di sini kita harus melihat kesempatan dari masalah, belajar mendengar baik-baik kritik. Menikmati produk dari sisi konsumen. Mau terus berinteraksi dengan konsumen.
Ke depan niatnya mau masuk ke sebuah jaringan enterpreneur sih. Mudah-mudahan tidak ada halangan.
Mau bikin start up? Dalam jangka waktu dekat sih belum ya, saya mau belajar bakulan dulu aja. Haha.
Nice Blog.
ReplyDeleteVisit us ittelkom-sby.ac.id