Mungkin ini renungan juga, bisa jadi tipikal teman seperti ini adalah orang yang haus apresiasi dari orang2 dekatnya kayak saya.
Saya? Anu, yaa...bukan apresiasi membabi buta sih. Kalau ga deket2 banget tapi ujug2 ngasih apresiasi saya juga mundur pelan2, curiga membatasi kemerdekaan, khawatir mengecewakan.
Tapi serba mudah cari sisi gelap prasangka manusia itulah secara natural bawaan yang ada pada diri saya. Gawatnya, terkhusus ditujukan untuk orang-orang dekat. Berita baiknya, untuk masuk ke radius terdekat dengan saya prosesnya relatif berlapis. Makanya kesan pertama orang bertemu saya secara spontan terbawa juga untuk menjaga jarak. Saya ga menyalahkan orang yang ga akrab karena ekspresi saya juga cenderung kurang terbuka.
Kok kayaknya ribet yak? Ha, ga seribet itu juga. Ya biasanya memang orang baru bisa paham ketika berinteraksi dalam jangka waktu lama.
Menemukan bahwa saya sangat adaptif untuk apa-apa yang berbau satire juga proses yang lama. Saya kira saya orang yang cukup tekun untuk sesuatu yang argumentatif tapi ternyata tidak terlalu tepat. Saya suka berbalas pendapat dengan orang lain. Tapi ketika satire sudah saya keluarkan, meski argumen masih mentah balas-balasan itu pun saya sudahi begitu saja.
Saya tidak bertahan terhadap argumen yang paling pas, tapi keras kepala terhadap analogi yang paling satire.
Apa satire sama dengan nyinyir? Yang saya rasa sih, beda. Kalau nyinyir murni merendahkan apapun pencapaian orang lain, sedang satire kalau dipaksa dengan frekuensi yang sama dengan nyinyir maka shocking effect nya kurang nendang. Padahal efek shock itu yang bikin satire mengasyikkan. Bukan sekedar asal 'ngenyek' ya.
(
Saya bisa satire, karena saya suka orang yang satire juga. Aneh tapi ya begitulah.
Jadi, biar kritikan loe bisa bikin gw ketagihan, pakailah gaya penyampaian secara satire. Ini serius. Dijamin langsung mingkem. Bikin gw mikir soalnya.
Dalam kehidupan biasa dan nyata, satire itu antara ada dan tiada (maksudnya dalam percakapan biasa sulit dibedakan antara sekedar memperhalus diksi atau udah beneran satire). Tapi dalam sejarah, satire banyak ditafsirkan ke dalam simbol-simbol tertentu. Mulai dari simbol kritik, oposisi hingga sinyal kudeta.
Jika Anda menemukan beberapa postingan di sini aga nylekit, yaa demikian juga lah pemiliknya. Jangan salah, saya pernah mencoba berpikir dengan cara yang linear seperti orang lain. Tapi rasanya sinaps2 di otak tidak saling nyetrum, 'dingin' dan 'hambar'. Satire tetap jadi seni terbaik bagi saya yang sering resah. Tak harus menjadi satire ke orang lain sebenarnya, satire ke diri sendiri juga cukup lucu.
Namun, Anda tak perlu khawatir. Saya terus mencari cara agar satire menemukan aktualisasi maksimalnya.
Dalam kehidupan biasa dan nyata, satire itu antara ada dan tiada (maksudnya dalam percakapan biasa sulit dibedakan antara sekedar memperhalus diksi atau udah beneran satire). Tapi dalam sejarah, satire banyak ditafsirkan ke dalam simbol-simbol tertentu. Mulai dari simbol kritik, oposisi hingga sinyal kudeta.
Jika Anda menemukan beberapa postingan di sini aga nylekit, yaa demikian juga lah pemiliknya. Jangan salah, saya pernah mencoba berpikir dengan cara yang linear seperti orang lain. Tapi rasanya sinaps2 di otak tidak saling nyetrum, 'dingin' dan 'hambar'. Satire tetap jadi seni terbaik bagi saya yang sering resah. Tak harus menjadi satire ke orang lain sebenarnya, satire ke diri sendiri juga cukup lucu.
Namun, Anda tak perlu khawatir. Saya terus mencari cara agar satire menemukan aktualisasi maksimalnya.
Satir yg faedah tentu.
No comments:
Post a Comment