Pamer ke Master Shifu: "Ganti domain dong....."
Dibales: "Bagus yang lama..."
Haish, maksud saya kan: ini nih udah serius branding. Ternyata bagus brand yang lama. Hahaha.
Baik, saya jelaskan kenapa saya mulai booking domain dengan nama sendiri.
Diawali dengan bertenggernya nama saya sebagai salah satu produk properti. Ya, so what? Padahal nama teman-teman sekalian kan bisa aja mendadak menempel jadi nama salon, sekolah, rumah sakit, toko kelontong, restoran bahkan sampai nama tempat cukur?
Penyebabnya bukan lain adalah karena saya pelan-pelan mulai belajar bakulan. Aduh panjang diceritain kenapa saya tertarik bakulan (sebagian alasannya bisa dibaca di sini), yang jelas secara singkat saya mengamini semboyannya Dewa Eka Prayoga: No Selling, Dying!
Domain ini rencana jangka panjangnya akan dipakai sebagai domain bakul. Sebelumnya saya sudah bakulan dengan toko online yang lain. Saya beli hosting sekaligus domain untuk toko online. Hanya saja, menaikkan traffic-nya perlu effort yang lumayan ya, dear. Dan untuk itu saya gerusukan ke berbagai komunitas buat cari ilmu sekaligus promote. Bukan, bukan komunitas blogger, tapi komunitas bakul.
Jadi, mbak, awalnya bukan buat nge-brand diri jadi seleb gitu yah?
Hahahahah, sa ae. Awalnya saya beneran gamau pakai nama personal buat branding. Tapi ada beberapa pelajaran terkait pengelolaan toko online tersebut. Salah satunya adalah ternyata cukup ngos-ngosan juga untuk engage dengan makhluk dunia maya saban hari. Dan karena kita simultan dengan salah satu sosial media, setiap hari umumnya ada 5 prime time para user sekrol-sekrol socmed-nya. Pertama belajar optimasi socmed: Hayati lelah, bang...
Duh, apa dong yang bikin saya bisa bikin sesuatu tiap hari dan mendapat traffic secara organik? Lalu saya teringat blog yang sudah 5 tahun ditelantarkan. Ya, benar. Saya bisa brutal di blog. Relatif nyaman buat eksis karena bisa diibaratkan ini rumah kita sendiri.
Nah, disinilah sembari merintis brand, saya mencatat hal-hal yang bisa dicatat.
Nah, disinilah sembari merintis brand, saya mencatat hal-hal yang bisa dicatat.
Hanya mencatat?
Banyak hal akhirnya yang saya pelajari dari blog. Dari sekian banyak blog, yang jadi favorit saya sejauh ini adalah teh Langit Amaravati dan teh Shintaries. Dua blog ini sungguh ga pelit ilmu untuk blogger muallaf nan dhuafa macam saya. Dua blog itu jugalah yang menyadarkan saya: ilmu kamu dulu bisa banget dipake, Sav. Dan hati saya pun jadi berbinar-binar.
Ngeblog mah ngeblog aja sih, mbak. Nulis, sosialisasi...
Iya, tapi menengok-nengok komunitas blogger rasanya ada satu hal: itu bukan dunia saya. Hehe, tenang aja kaka-kaka senior blogger. Saya tahu ukuran sepatu kok. Dan ya, well, again, dilihat-lihat sungguh bukan dunia saya.
Trus kenapa postingnya sering ribet sama coding?
Terakhir saya berpartisipasi di salah satu inkubator start up. Dan ajegile, nyari hipster kok susah banget yak. Definisi yang ditawarkan perihal hipster ini adalah hacker yang paham desain. Aduh, mak, udah bahasa programming saya ketinggalan pisan. Ikut kelas coding akhir-akhir ini cuma planga-plongo. Harus ditambah lagi dengan ilmu desain yang berkembang kemana entah. Rasanya dunia ini sudah bukan untuk jompo seperti saya.
Dan melalui blogging inilah saya memulai belajar lagi. Minimal untuk dipakai sendiri dulu kan bukan buat dimonetisasi?
Jadi, mbak, mo pakai domain yang mana sekarang?
No comments:
Post a Comment