Halaman 48: Workshop Pencahayaan Buatan by Arbain Rambey


Waktu untuk memulai dan 'nyemplung' di dunia fotografi tidak banyak. Bulan September nanti sudah mulai kelas LIPIA. Ini patokan utama. Plus juga harus memulai jualan makanan supaya asosiasi (baca: branding atau merk) yang saya (dan temen) bawa melekat di siswa baru dari awal masuk belajar.

Kemudian muncul kecurigaan saya pula bahwasannya Agustus ini bakal terpaksa blusukan-turun-ke unit dengan tugas tambahan dokumentasi. Akhir Agustus sudah harus punya banyak stok studi kasus untuk diskusi agar kegiatan 'investasi leher ke atas' yang cukup bikin dompet gemetaran itu bisa balik modal. Mau tidak mau ngejar forum fotografi mulai dari sekarang. Kapan lagi, coba?

Pas cari-cari workshop buat belajar fotografi, sekrol-sekrol di laman instagram banyak juga event di bulan Juli. Apalagi tanggal 21 Juli ini. Ada 3 event yang menarik. Pertama, sharing foto studio dengan Fajar Kristianto (alpha professional photographers). Kedua, kopdar alpha Indonesia dengan suhu Dewan Irawan. Ketiga, workshop pencahayaan buatan dari Kompas.

Saya pilih yang ketiga. Pertimbangannya begini:
  1. Iklan yang ketiga menyebutkan kata dasar-dasar. Brarti ada kemungkinan mulai dari basic meski yang pro juga bakal masuk (buat bertanya hal-hal yang gak kesampaian sama otak saya).
  2. Pemateri yaitu Bang Arbain Rambey sudah sering saya dan suami tonton acaranya di TV. Kepo dong gimana kalau beliau ngajar langsung di kelas?
  3. Lokasi yang amat gampil dijangkau. Naik kereta sajo. Sama jalan kaki dikit, sih.
  4. Fotografi indoor beneran saya butuhkan karena ga mungkin bisa sering-sering kelayapan buat hunting sementara traffic kudu di-supply terus dengan postingan rutin.
Bismillah, saya jalan ke acara ketiga.


Apa yang didapat dari seminar ini?

Impresi pertama, oke saya cocok dengan pemateri yang metal kek gini. He, maksudnya gak fanatik ke satu brand atau platform tertentu. Ga fanatik juga dengan metode tertentu. Tahu kelemahan dan kekuatan diri dalam pekerjaan. Mengenal tools dari manfaatnya, tidak sekedar merk saja.

Hal kedua, sudah saya duga saya bakal bertemu dengan banyak anak-anak muda. Meskipun sempat berharap ada makmak bakulan berdaster yang ikut. Ya, belajar buat foto produk ato gimana gitu kan? Secara harga kamera makin terjangkau. Tapi ya, makmak biasanya ikut event dari komunitas aja. Memang perlu effort lebih untuk keluar dari satu zona nyaman.

Hal ketiga, saya jadi nambah pengetahuan tentang cahaya buatan, bagaimana triangle exposure dipakai untuk menonjolkan atau menyamarkan hal-hal tertentu, ngeuh tentang fungsi white balance, electromagnetic spectrum, baru 'dhong' tentang fungsi multi interface shoe, baru tau cara pake blitz di kamera sendiri (ampuuun, jangan dibully), mengenali perbedaan foto object dengan foto manusia.

Electromagnetic Spectrum diambil dari sini.

Oia, hal menarik yang disampaikan Bang Arbain Rambey salah satunya perihal unsur-unsur foto yang wajar. Saya bilang wajar karena berulangkali beliau sampaikan 'ideal' itu relatif. Kek auditor aja yak pake status 'wajar' karena berbagai macam hal yang menyebabkan pemeriksaan tidak menjamin hasilnya 'sempurna'. Begitupun dengan foto yang menurut Bang Arbain: bermain di ruang keterbatasan, menemukan sepotong dari keseluruhan. Jadi, bagi beliau foto yang bagus tidak mutlak patokannya.

Unsur foto yang wajar pertama adalah lincah dalam teknik. Ga harus freak sama manual dan jangan males-malesan juga semua serba auto. Buat Bang Arbain, teknik ini terkuantifikasi. Dan hal-hal yang serba kuantitatif seperti ini bisa dilakukan oleh mesin. Sedangkan tiga unsur berikutnya yakni posisi, komposisi dan momen sampai sekarang masih domain dari kekuasaan manusia dalam menerjemahkan sebuah objek ke dalam kamera.

Fisika lensa kamera diambil dari ini.

Tapi buat saya yang pernah belajar AI, sih, tinggal tunggu waktu aja untuk tiga hal tersebut dimekanisasi. Mungkin bukan urusan mesin kameranya, tapi tools tertentu yang bisa membuat seorang fotografer lebih tertata untuk menempatkan objeknya ke dalam konteks yang diinginkan customer. Hampir sama seperti aplikasi2 packing tools buat traveller. Hanya dikembangkan ke knowledge jadi ga semata-mata hanya urusan operasional. Tapi juga untuk mendevelop hasil foto menjadi lebih maksimal. Kek mana ini, belum tahu juga. Ini perkiraan kasar saja.

Next, catetan beliau, edit foto wajar-wajar aja. Karena untuk mendapatkan foto yang sempurna tanpa edit ya ribetnya mintak tolong. Sepanjang editnya tidak merubah esensi yang ingin didapatkan dari foto tersebut maka masih bisa ditoleransi. Trus, dalam setting foto jarang ada yang 'polos' banget dapet hasil 'bagus' banget. Mostly musti diakal-akali bahkan dengan perabotan yang membuat kenyamanan manusia berkurang.

Misal, foto profil. Umumnya baju kece ga bagus difoto, sedangkan baju gak keren lebih maknyus untuk difoto. Jas supaya lengannya pas di pergelangan tangan ketika tangan model menekuk, maka mesti lebih panjang dari ukuran aslinya. Efek keringat, supaya terlihat riil perlu semprotan air gula yang menempel di permukaan lebih lama ketimbang air yang mudah menggelincir. Atau foto makanan, foto es supaya ngambang di permukaan gelas biasanya menggunakan artificial ice cubes yang berat jenisnya lebih kecil dibanding air dan tentu saja bukan sesuatu yang bisa dikonsumsi. Kesan mengilap pada mie kadang menggunakan minyak pelumas supaya hasilnya bikin 'ngiler'. Atau uap yang gak bisa difoto trus alternatifnya dibuat asap buatan yang tentu saja monoksida, ceu. Racun!

Sebagai penutup, Bang Arbain Rambey mewanti-wanti cara yang efektif belajar fotografi dari buku menurutnya ya, lakukan yang berlawanan dengan teori di buku tersebut. Banyak-banyak mencoba. Jika hasilnya berantakan ya, baru lakukan koreksi sesuai teori.

Begitu, semoga bermanfaat.

No comments:

Post a Comment