Di Jakarta, banyak banget event buat UMKM dan gretong! Talkshow ini salah satunya. But, remember, ikut talkshow, seminar atau workshop bakalan kurang maknyus tanpa dilengkapi komunitas.
Ekspansi ke e-commerce atau ekspor siapa sih yang ga mupeng? Tapi kapan dan bagaimana kita bisa eksis di kedua lini tersebut memang ga akan bisa terkelupas jelas dalam waktu dua jam. Jadi, memang hadir di seminar ini semacam sosial eksperimen buat saya terutama menyimak pandangan pemateri perihal e-commerce lokal.
Tampilan website bro.do
Definisi hasil luar biasa sendiri buat saya bukan penampilan necis atau bicara njelimet supaya terlihat keren. Yukka berhasil menarik perhatian karena kisahnya yang sangat related dan enganged dengan khalayak sehingga keprihatian dan visi bro.do untuk berkontribusi pada perbaikan wajah produk Indonesia bisa diterima secara wajar. Meski mirip dengan Qlapa yang berfokus pada produk crafting dan handmade, ide awal bro.do 100% bakulan.
Beberapa hal yang saya simpulkan dari yang disampaikan Yukka antara lain:
Sebuah usaha bisa dimulai dari problem diri sendiri. Jadi, meskipun kemudian problem tersebut ternyata juga common pain untuk kelompok tertentu, ga ada salahnya jika salah satu aspek historis dari kehidupan kita turut mendukung perkembangan dan branding usaha. Sebenarnya ini kejadian juga di Mas Fadli Wilihandarwo dengan start up pasienia-nya. Teman-teman Mas Fadli yang bertahan mengembangkan pasienia punya alasan personal mengapa ketika satu persatu berguguran mereka masih bertahan. Kelihatannya yang disampaikan Yukka sih, sesimpel masalah dia menemukan ukuran sepatu yang sesuai. Cuma kan 8 tahun bro.do beroperasi kita gatau suka duka nya gimana yak? Setidaknya bro.do sustain lebih lama dibanding start up kekinian yang lain.
Kemudian, Yukka mengibaratkan bisnis untuk pekerja kreatif adalah sebagaimana pemain musik bermain jazz bukan orkestra. Dalam orkestra, alur permainan ditentukan oleh konduktor sedangkan dalam jazz, para pemain menentukan visi sampai pada batas tertentu, selebihnya dipersilakan melakukan improvisasi. Tapi toh, improvisasi dari masing-masing pemain tersebut menghasilkan musik yang bisa diterima telinga. Seperti itulah cara team berjalan untuk pekerja kreatif. Bukan dengan diatur-atur atau disuruh-suruh.
Terakhir, Yukka bercerita tentang kisah smurf untuk menjelaskan bagaimana building relationship yang dibangun bersama pelanggan. Pada suatu ketika ada telpon masuk untuk melakukan order yang kedengarannya 'merepotkan' bro.do. Jadi, ada seorang calon pengantin laki-laki mencari sepatu yang senada dengan baju yang akan dikenakan pada saat pre-wedding, hanya saja jarak antara warehouse bro.do dengan si pelanggan jika dilakukan melalui order biasa tidak mungkin dijangkau dalam waktu yang sedemikian singkat. Mendengar permintaan pelanggan yang sangat membutuhkan sepatu tersebut, Yukka dan team pun mencari cara agar sepatu tersebut sampai ke pelanggan. Itu pun belum dibayar, lho, pesanannya.
Waktu berlalu dan bro.do terlupakan dengan kejadian tersebut, hingga 3 tahun kemudian mereka iseng mencari apa ada rekam jejak pembelian berikutnya dari pelanggan tadi (kalau dari yang Yukka sampaikan kedengarannya kayak nama alay). Ternyata dalam waktu satu tahun, si pelanggan bisa membeli hingga 4 pasang sepatu. Belum jika si pelanggan tadi mengendorse produk bro.do pada teman-temannya. Maka bro.do mendapatkan iklan tanpa budget yang tinggi. Nah, hal-hal seperti inilah yang kadang terlupakan ketika kita berbisnis. Buat Yukka, pelanggan adalah partner paling loyal. Jadi, membangun hubungan yang baik adalah keharusan.
Setelah talkshow berakhir, saya berkeliling-keliling menengok-nengok kain-kain tradisional dari berbagai macam provinsi di Indonesia. Sebenarnya ditugaskan suami buat nyari baju batik sih, karena sudah banyak batik doi yang koyak. Hanya saja, mendengar gerutuan pengunjung perihal harga kain saya jadi jiper mau tanya-tanya. Akhirnya berkeliling-keliling mempraktekkan hasil pelajaran hari sebelumnya.
Pameran ini cocok buat para desainer yang lagi nyari inspirasi produk etnik. Sebenarnya saya juga suka hal-hal etnik tapi bukan buat koleksi, sih. Jelas untuk special occasion saja. Daripada pakai yang bling-bling mending pakai batik atau tenun. Lebih simple, elegan dan nge-Indonesia banget gitu lho.
Kalau ditanya kainnya bagus-bagus, gak? Buat saya sih, bagus semua. Cuma ya, namanya karya seni ga bisa disetting kayak pasar gitu ya. Ga khusyuk menikmatinya. Mungkin karena saya hadir pas hari terakhir jadi agak ramai.
Demikian.
No comments:
Post a Comment