Disclaimer: tulisan ini digunakan untuk pembelajaran pribadi yang merupakan saripati dari Bab Ketiga buku Feminist Thought: A More Comprehensive Introduction karya Rosemarie Tong. Materi yang disusun ini bukan merupakan hasil kajian analitikal maupun materi literasi untuk umum, namun tidak lebih hanya sebagai upaya meningkatkan wawasan pribadi. Simpulan akhir penulis terhadap karya tersebut bisa saja lain dari yang tertulis di sini.
Membedakan pemikiran marxis feminis dan sosialis feminis cukup rumit untuk dilakukan melalui studi literatur. Perbedaan antara dua aliran pemikiran ini lebih merupakan masalah penekanan daripada substansi. Marxis feminis bekerja dalam wilayah konseptual yang disusun oleh Marx, Engels, Lenin, dan pemikir abad kesembilan belas lainnya. Mereka menganggap classisme (bukan seksisme) sebagai penyebab mendasar penindasan perempuan.
Sebaliknya, sosialis feminis tidak yakin bahwa classisme adalah musuh terbesar atau musuh satu-satunya perempuan. Kegagalan Rusia abad ke-20 untuk mencapai tujuan besar sosialisme membuat mereka mengganti jargon opresi kelas dan antagonisme menjadi visi dimana kebebasan individu untuk berkembang artinya mewujudkan kebebasan untuk semua orang.
Pasca-1917 komunisme ala Uni Soviet dan Eropa Timur dianggap bukanlah aktualisasi sosialisme sebenarnya tetapi hanya bentuk baru eksploitasi dan penindasan manusia. Hidup perempuan di bawah Komunike, khususnya selama Stalin berkuasa (1929–1953), kenyataannya tidak lebih baik daripada kehidupan perempuan di bawah kapitalisme. Pindahnya perempuan ke sektor produksi tidak membuat laki-laki mengubah sikapnya baik di area publik maupun privat. Untuk alasan ini sosialis feminis memutuskan bergerak dengan penekanan pada teori classisme sebagai satu-satunya kategori untuk memahami subordinasi perempuan terhadap laki-laki. Mereka mencoba untuk memahami subordinasi perempuan dalam cara yang koheren dan sistematis yang mengintegrasikan kelas dan jenis kelamin, serta aspek identitas lainnya seperti ras / etnis maupun orientasi seksual.
Dengan menegaskan ide-ide Marx dan Engels, marxis feminis mencoba menggunakan analisis kelas (ketimbang analisis gender) untuk menjelaskan opresi terhadap perempuan. Contoh klasik yang sangat baik dikemukanan Evelyn Reed dalam Women: Caste, Class, or Sex Oppressed? Karya ini menekankan bahwa kekuatan ekonomi kapitalis dan tekanan sosial adalah penyebab opresi satu kelas oleh yang lain (maupun satu ras dengan yang lain atau satu bangsa oleh yang lain) yang juga menyebabkan opresi terhadap satu jenis kelamin oleh yang lain.
Reed berpendapat bahwa opresi terhadap perempuan oleh perempuan lain adalah opresi terburuk yang menimpa perempuan. Meskipun Reed setuju dengan pandangan bahwa dibandingkan dengan laki-laki, perempuan relatif menempati posisi subordinat dalam patriarki (atau masyarakat yang didominasi laki-laki), namun di sisi lain Reed tidak sependapat bahwa semua perempuan sama-sama tertindas oleh laki-laki. Rees juga tidak setuju dengan pemikiran feminis lain bahwa tidak ada perempuan yang bersalah karena menindas perempuan lain. Sebaliknya menurut Reed dalam sistem kapitalis para pemikir perempuan dari kalangan borjuis mampu menindas baik laki-laki dan perempuan dari kalangan proletar.
Tidak ditemukan dalam manifesto milik Reed pernyataan yang mendesak semua perempuan untuk bersatu menyatakan perang terhadap semua laki-laki. Sebaliknya, ia mendorong perempuan yang tertindas untuk bergabung dengan laki-laki yang tertindas dalam perang kelas melawan opresi dari kapitalis secara bersamaan. Menurut Reed adalah pemikiran yang salah kaprah jika bersikeras bahwa semua perempuan (hanya berdasarkan fakta memiliki dua kromosom X) memiliki kelas yang sama. Ia berpendapat bahwa seperti halnya laki-laki perempuan adalah jenis kelamin multi-kelas. Secara khusus, perempuan proletar hanya memiliki sedikit kesamaan dengan perempuan borjuis dalam aspek ekonomi, sosial dan politik. Perempuan borjuis tidak dipersatukan dengan perempuan proletar tetapi dengan laki-laki borjuis “dalam legitimasi kepemilikan pribadi, keuntungan, militerisme, rasisme — dan eksploitasi perempuan lain”.
Jelas, Reed percaya bahwa musuh utama perempuan proletar bukanlah patriarki, tetapi kapitalisme. Optimis tentang hubungan laki-perempuan dalam masyarakat paska kapitalistis, Reed menyatakan “tidak akan abadi, subjektifikasi perempuan dan permusuhan yang pahit antar jenis kelamin. Kelak akan muncul perubahan sosial drastis yang membawa keluarga, kepemilikan pribadi, dan negara”. Dengan berakhirnya hubungan kapitalistis laki-laki dan perempuan, kedua jenis kelamin akan berkembang dalam masyarakat komunis yang memungkinkan semua anggotanya untuk bekerja sama satu sama lain dalam komunitas saling asuh.
Marxis feminis semakin menyadari bahwa mereka secara tidak langsung berasumsi pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan perempuan dan mengkhawatirkan bahwa kemunculan masyarakat komunis/sosialis tidak memperhatikan pekerjaan tersebut. Ide untuk menyetarakan laki-laki dan perempuan dalam pekerjaan rumah tangga sebagai upaya mendapatkan upah tak ubahnya konsep bisnis pada umumnya.
Artinya tetap secara alami perempuan terus melakukan pekerjaan rumah tangga secara "gratis". Apakah perempuan dapat memiliki pekerjaan berpenghasilan di luar rumah? Tidak dapat dijelaskan dalam istilah ekonomi khusus mengapa pekerjaan rumah tangga dipandang sebagai pekerjaan perempuan masyarakat sosialis maupun kapitalis. Banyak diantara marxis feminis menyimpulkan pekerjaan rumah tangga merupakan tugas untuk perempuan di semua masyarakat hanya karena semua perempuan termasuk dalam jenis kelamin yang sama atau jenis kelamin kedua yang ada untuk melayani jenis kelamin pertama (laki-laki).
Kaum marxis feminis yang memutuskan bahwa adanya kelas terhadap jenis kelamin dan juga kelas ekonomi memainkan peran dalam opresi terhadap perempuan, menyebut diri mereka sebagai sosialis atau materialis feminis. Salah satu tujuan awal kelompok ini adalah merunutkan teori feminis yang selama ini ada dan mengembangkan teori yang cukup kuat untuk menjelaskan cara-cara rumit di mana kapitalisme dan patriarki bersekutu untuk melakukan opresi terhadap perempuan. Hasil dari upaya ini bukanlah teori tunggal, tetapi berbagai alternatif teori yang secara umum memilah diri menjadi dua jenis: (1) penjelasan dual sistem tentang penindasan perempuan dan (2) penjelasan sistem interaktif tentang penindasan perempuan.
Dapat dipahami seperti halnya bagi banyak feminis yang mulai mempertimbangkan filasafat materialisme untuk menemukan penjelasan yang lebih tajam perihal kontribusi budaya dalam opresi terhadap perempuan, sosialis feminis juga mengkaji ulang penolakan yang ada selama ini terhadap filosofi tersebut. Stevi Jackson baru-baru ini mencetuskan ide untuk kembali ke materialisme — ide yang mungkin menyelamatkan sosialis kontemporer feminis dari pengabaian terhadap faktor-faktor kunci opresi terhadap perempuan.
Analisis materialis masih dirasa relevan sampai sekarang. Sembari mengelaborasikan ulang analisis tersebut, marxis tradisional akhirnya tidak banyak berpendapat tentang perpecahan gender. Meskipun tidak dapat menjelaskan seluruh kehidupan manusia dengan sempurna, metode analisis yang diwariskan Marx akan tetap berguna.
Mengapa perspektif materialis tetap diperlukan untuk bergulat dengan kompleksitas dunia pascakolonial, ketimpangan gender, etnis, dan bangsa? Terlihat dengan jelas bahwa fondasi materialisme (dalam konteks rasisme yang massif dan sistematis; perbudakan selama berabad-abad; kolonialisme dan imperialisme) memerlukan kerjasama internasional yang berkelanjutan, sehingga dapat menyikapi secara proporsional budaya yang terbentuk dari berbagai macam perbedaan.
Sampai sekarang terlihat bahwa sistem global yang ditandai oleh ketidaksetaraan materi tampak sangat mencolok. Bahkan di negara-negara Barat, masih ada penderitaan perempuan disebabkan situasi yang memburuk sebagai akibat dari pengangguran dan keterbatasan penyediaan kesejahteraan. Persimpangan antara kelas, jenis kelamin, dan rasisme jelas penting di sini, juga perlu penelitian lebih lanjut dalam hal pola struktural ketidaksetaraan sebagai identitas. Semangat yang berkelanjutan dari pendekatan apapun mengenai ketidaksetaraan akan sangat penting untuk politik dan teori feminis.
Betapapun menariknya bagi para sosialis kontemporer feminis untuk menyelidiki jiwa perempuan dari waktu ke waktu, tujuan mendasar dari para feminis ini harus tetap konsisten: mendorong perempuan di mana saja bersatu dalam apa pun cara yang mereka bisa untuk menentang opresi, ketidaksetaraan, dan ketidakadilan.
No comments:
Post a Comment