Halaman 36: Female Matters (6): Konsep Psikoanalisa

Pict Nurul Izzah Anwar, Malaysian Politician taken from here.

Disclaimer: tulisan ini digunakan untuk pembelajaran pribadi yang merupakan saripati dari Bab Keempat buku Feminist Thought: A More Comprehensive Introduction karya Rosemarie Tong. Materi yang disusun ini bukan merupakan hasil kajian analitikal maupun materi literasi untuk umum, namun tidak lebih hanya sebagai upaya meningkatkan wawasan pribadi. Simpulan akhir penulis terhadap karya tersebut bisa saja lain dari yang tertulis di sini.

Setiap aliran pemikiran feminis sejauh ini telah menawarkan penjelasan dan solusi untuk penindasan perempuan yang berakar pada struktur politik dan ekonomi masyarakat atau dalam hubungan seksual manusia dan hubungan, peran, maupun praktik reproduksi:

  • Liberal feminis mengklaim dapat memberi perempuan hak dan peluang yang sama sebagaimana laki-laki sehingga mungkin cukup untuk menghilangkan ketidaksetaraan gender.
  • Sementara radikal feminis berpikir sebaliknya. Mereka bersikeras bahwa jika kesetaraan gender adalah tujuan feminis maka harus terlebih dahulu memeriksa hak dan tanggung jawab seksual dan reproduksi laki-laki dan perempuan. Karena dengan cara tersebut maka kita akan mengerti sepenuhnya mengapa sistem yang menumbuhkan dominasi laki-laki dan subordinasi perempuan begitu gigih dan semakin lazim.
  • Radikal-liberal feminis mengklaim bahwa perempuan perlu dibebaskan tidak hanya dari beban reproduksi alami dan peran ibu biologis tetapi juga dari pembatasan standar ganda perilaku seksual yang memberi kebebasan seksual pada laki-laki dimana hal tersebut tidak dapat diterima jika subjek pelakunya adalah perempuan.
  • Radikal-kultural feminis tidak setuju. Mereka mengklaim bahwa sumber kekuatan perempuan berakar dari keunikan peran reproduksi perempuan. Faktanya semua anak dilahirkan oleh perempuan; tanpa perempuan tidak akan ada anak yang dilahirkan. Radikal-kultural feminis juga menekankan bahwa perilaku seksual laki-laki tidak layak ditiru oleh perempuan, karena laki-laki sering menggunakannya seks sebagai instrumen kontrol dan dominasi daripada cinta dan ikatan.
  • Hingga akhirnya, marxis dan sosialis feminis berhipotesis bahwa kecuali struktur ekonomi kapitalis dihancurkan, manusia akan terus menjadi dibagi menjadi dua kelas oposisi - yang kaya dan yang miskin - dan jika kapitalisme dan patriarki saling memperkuat, perempuan (dibandingkan laki-laki) akan selalu menemukan diri mereka di jajaran golongan paling kalah.

Berbeda dengan liberal, radikal (liberal maupun kultural), dan marxis/sosialis feminis, psikoanalitik feminis mempertahankan penjelasan mendasar bahwa perilaku perempuan berakar jauh di dalam jiwa perempuan, khususnya, dalam cara berpikir perempuan tentang diri mereka sebagai perempuan. Mengandalkan konstruksi Freudian seperti tahap pra-Oedipal dan tahap Oedipal dan/atau pada konstruksi Lacanian seperti Symbolic Order, mereka mengklaim bahwa identitas gender menyebabkan ketidakadilan gender yang berakar pada serangkaian pengalaman masa kanak-kanak dan anak usia dini.

Perkiraan feminis psikoanalitik menyatakan pengalaman-pengalaman tersebutlah yang penyebab individu melihat diri mereka sendiri dalam istilah maskulin atau feminin, menganggap diri mereka sebagai anak laki-laki atau perempuan. Bahkan, pengalaman yang sama ini adalah penyebab masyarakat mengistimewakan "maskulin" atas hal-hal "feminin".
 
Dengan mengajukan hipotesis bahwa dalam masyarakat nonpatriarki, maskulinitas dan feminitas akan dikonstruksi dan dihargai secara berbeda, psikoanalitik feminis memberi rekomendasi agar perempuan bekerja menuju masyarakat seperti itu dengan mengubah pengalaman masa kanak-kanak kita atau (yang lebih radikal) mengubah struktur linguistik yang menyebabkan kita menganggap diri sebagai laki-laki atau perempuan.

Chodorow, Dinnerstein, dan Mitchell relatif berhasil menantang teori Freudian yang ketat tentang perkembangan psikososial. Mereka berusaha memberikan penjelasan untuk perkembangan psikoseksual yang lebih membantu perempuan. Namun, trio feminis psikoanalitik tidak melangkah cukup jauh. Mereka tidak menekankan--seperti yang akan dilakukan oleh beberapa feminis psikoanalitik lain--untuk memahami mengapa pada teori kejiwaan masyarakat secara umum membangun laki-laki memiliki sifat maskulin dan perempuan memiliki sifat feminin. Chris Weedon berpendapat:

Jika perempuan mengasumsikan bahwa subjektivitas diproduksi secara random dalam lembaga dan proses sosial maka tidak ada alasan mengapa perempuan harus mendapat hak istimewa. Hubungan seksual terbentuk di atas hubungan sosial lainnya sebagai mandat dari identitas. Mungkin ada alasan khusus (secara historis) untuk melakukan perjuangan ini dalam analisis tertentu, tetapi tidak akan bersifat universal. Selanjutnya, jika perempuan prihatin dengan pertanyaan tentang identitas seksual, maka psikoanalisis sendiri harus dipandang sebagai satu wacana di antara banyak yang telah berpengaruh dalam membentuk norma yang inheren terhadap patriarki seksualitas.

Poin Weedon adalah: jika perempuan berpikir, misalnya, bahwa perempuan dapat mengubah identitas psikososial saat ini dengan melembagakan praktik seperti dual parenting, maka perempuan juga dapat mengubah identitas psikoseksualnya dengan menjalankan realitas alternatif seperti single parenting. Seperti yang Weedon katakan, “wacana lebih mencerminkan makna”. Atau sederhananya realitas mendahului perumusan teori umum.

Pengamatan yang dilakukan Weedon sebagian menjelaskan mengapa generasi psikoanalitik feminis baru, menganggap reinterpretasi Jacques Lacan (psikoanalis Prancis) sangat berguna terhadap analisis Freud. Bagi Lacan, anatomi bukanlah takdir; sebaliknya, bahasa adalah takdir. Oleh karena itu, jika bahasa dapat diubah, maka takdir juga bisa berubah.

Seperti feminis liberal, radikal, dan marxis-sosialis, psikoanalitik feminis belum memberikan penjelasan yang sepenuhnya memuaskan untuk subordinasi perempuan. Selain itu, seperti yang diamati oleh kritikus Dorothy Leland, psikoanalitik feminis tidak menawarkan perempuan cara yang benar-benar diinginkan untuk mencapai kehidupan manusia yang lebih utuh. Dual parenting bukan obat mujarab untuk semua penderitaan perempuan, dan menurut perkiraan Leland, tidak ada juga upaya Mitchell, Irigaray, dan Kristeva untuk menyelesaikan dongeng Oedipal. Memang, menurut Leland, resolusi Kristeva tentang kisah Oedipal agak mengganggu karena hanya menawarkan tiga "opsi" kepada perempuan untuk menghindari psikosis.

Opsi pertama, yang cenderung tidak diinginkan perempuan menurut Kristeva, adalah identifikasi total tentang ayah. Menurut Kristeva, dongeng Yunani tentang Electra yang membunuh ibunya (Clytemnestra) untuk "membalas dendam ayahnya" adalah contoh sempurna dari perempuan yang diidentifikasi sebagai ayah. Clytemnestra harus dihukum dan dilenyapkan, karena dia telah berselingkuh, sehingga mengekspose kepada dunia kehendak hasratnya, sebuah kehendak yang terlarang dalam tatanan patriarkal. Dengan membunuh ibunya, Electra mengungkapkan kebenciannya bukan hanya pada hasrat ibu tetapi juga hasratnya sendiri. Ekspresi Electra terhadap kebencian pada ibu/kebencian diri "melanggengkan tatanan sosial /simbol patriarkal," kata Leland.

Pilihan kedua untuk perempuan, yang menurut Kristeva juga cenderung tidak diinginkan, adalah identifikasi total tentang ibu. Sebab Kristeva sebagian besar menerima pandangan Lacan bahwa untuk menjadi beradab, anak harus menekan hasrat dan relasi simbiotiknya dengan sang ibu, Kristeva memandang identifikasi total dari “ibu” seolah mengutuk perempuan untuk “selamanya merengek di hadapan sejarah, politik, dan urusan sosial”. Dengan kata lain, harga identifikasi total tentang ibu tidak diizinkan menjadi matang.

Pilihan ketiga untuk perempuan, yang cenderung diinginkan Kristeva, adalah menghindari kedua identifikasi total “ayah” dan identifikasi total “ibu”:

Mari kita tolak kedua kutub ekstrem itu. Marilah kita pahami bahwa maskulin, identifikasi ayah. . . diperlukan dalam rangkaian politik dan sejarah. . . [Tetapi] marilah kita segera waspada kepada narsisme akut dari integrasi tersebut; mari kita tolak pengembangan seorang perempuan "homolog" [yaitu Electra], yang dianggap cakap dan jantan; dan mari kita bertindak berdasarkan panggung sosio-politik-historis dalam sisi negatifnya: yaitu pertama bertindak dengan semua orang yang menolak dan menolak semua yang memberontak terhadap hubungan produksi dan reproduksi yang ada. Tetapi janganlah kita mengambil peran revolusioner juga, apakah laki-laki atau perempuan: mari kita sebaliknya menolak semua peran untuk memanggil kebenaran di luar ruang waktu, kebenaran yang salah, yang mungkin tidak cocok dengan proses dialog dan simbolisme sosial.

Menurut Leland, dengan filsafat "kebenaran" Kristeva menekankan modal semiotika dalam bahasa. Namun Kristeva tidak memandang perlu penggantian total modal simbol bahasa dengan modal semiotik bahasa. Setiap upaya untuk sepenuhnya menggantikan simbolik dengan semiotik akan menghancurkan peradaban Symbolic Order. Semua orang akan didorong kembali ke tahap pra-Oedipal atau Imaginary. Menurut Kristeva eksistensi permanen pada tahap ini tidak lebih dari gejala psikosis. Dengan demikian, tindakan spesifik Kristeva direkomendasikan bagi perempuan yang tidak ingin menjadi gila adalah untuk terlibat dalam “dialektika absurd” maupun “alienasi permanen” antara perjalanan semiotik (ibu) dan simbolik (ayah).

Dengan melakukan refleksi terhadap rekomendasi Kristeva kepada perempuan, Leland dan banyak lagi kritikus psikoanalitik feminis yang lain tidak bisa tidak berpikir bahwa perempuan harus memiliki lebih banyak opsi daripada yang disebutkan di atas. Beberapa kritik ini menunjukkan bahwa gender tidak perlu ditafsirkan dalam hal maskulinitas atau feminitas saja, dan bahwa seksualitas tidak perlu ditafsirkan dalam hal kejantanan atau hanya keperempuanan. Ada banyak jenis kelamin dan banyak jenis seksualitas.

Sebaliknya, para kritikus ini berpendapat bahwa psikoanalitik feminis mengembangkan konsep yang sepenuhnya non-Freudian/non-Lacanian tentang perkembangan psikoseksual — konsep yang memungkinkan perempuan dan juga laki-laki untuk beradab tanpa menetapkan salah satu jenis kelamin pada status “jenis kelamin kedua”. Sayangnya, psikoanalitik feminis belum mampu menemukan dalam tradisi Barat kisah psikoseksual yang lebih meyakinkan untuk diceritakan dibandingkan beberapa versi kisah Oedipal. Apakah ada konsep psikoseksual yang lebih baik?
 
Oleh karena itu, kisah yang diceritakan dalam tradisi non-Barat merupakan jalan bagi feminis untuk melakukan spekulasi dan eksplorasi.

1 comment: